Kamis, 02 September 2010

Inspirasi Usaha : Menu Lezat Tanpa Batas Ruang dan Waktu

Inspirasi Usaha : Menu Lezat Tanpa Batas Ruang dan Waktu... PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal
Kamis, 12 August 2010 06:01

Ada dua makanan yang menurut saya sendiri sangat lezat di daerah Jakarta dan sekitarnya. Pertama adalah sop kaki kambing di sebuah restaurant arab di Jalan Raden Saleh. Saking lezatnya sop kaki kambing yang satu ini, tamu-tamu arab yang saya ajak makan disini pada keheranan – karena menurut mereka di arab sendiri tidak ada sop kaki kambing yang seenak ini. Bahkan ketika mereka balik kenegaranya, mereka pada cerita bahwa di Jakarta ada sop kaki kambing yang sangat lezat – maka bertambahlah orang-orang arab manca negara yang mengenal restaurant ini dari waktu ke waktu.



Satu lagi adalah sop sapi dari restaurant kecil di dekat taman buah Mekarsari. Saking banyaknya penggemar sop sapi dari warung nasi ini – mereka hanya buka sekitar 3 jam setiap harinya yaitu jam makan siang 11-14. Sebelum jam 11 mereka belum buka, setelah jam 14 – dagangannya habis. Hari Sabtu dan Ahad mereka tutup karena nampaknya mereka hanya mentarget orang kantoran dan pabrik di sepanjang jalan alternatif Cibubur sampai Jonggol.



Betapa-pun lezatnya, saya tidak bisa sering-sering makan kedua sop ini – karena terkendala oleh dua hal yaitu ruang dan waktu. Diperlukan perjalanan mobil 1.5 – 3 jam (tergantung kemacetan Jakarta) dari rumah saya untuk sampai Raden Saleh tempat restaurant sop kaki kambing tersebut berada. Jadi saya hanya makan di restaurant ini bila sedang menghormati tamu-tamu arab saya.



Demikian pula hal-nya dengan sop sapi dari warung nasi dekat Mekarsari tersebut, saya hanya makan sop sapi yang istimewa ini bila sedang berada di daerah tersebut pada saat jam makan siang. Wal hasil kedua sop yang sangat lezat ini jarang sekali bisa saya nikmati karena kendala ruang dan waktu tersebut diatas.



Di waktu sahur hari-hari pertama bulan Ramadhan seperti ini (saat tulisan ini saya buat), rasanya akan sangat enak kalau bisa makan salah satu dari sop tersebut – tetapi apa boleh buat lokasi keduanya sangat jauh dan pasti mereka tidak buka pada jam sahur begini.



Namun alhamdulillah, sudah sekitar 10 bulan ini para peserta Pesantren Wirausaha angkatan I bekerja keras untuk memecahkan masalah kendala ruang dan waktu tersebut diatas. Hasilnya adalah project Planet Beku yang insyallah siap trial-run di bulan Ramadhan ini juga.



Prinsipnya sederhana saja, bahwa teknik pembekuan bisa digunakan untuk hampir semua jenis makanan. Selain mudah, teknik ini juga tergolong aman sekali karena tidak menggunakan zat pengawet apapun. Makanan-makanan lezat yang dibekukan, akan dapat dikonsumsi kapanpun dan dimanapun, jadi kendala ruang dan waktu kini telah teratasi melalui teknik pembekuan.



Selama tes pasar ini, insyallah sudah tersedia 8 menu makanan lezat yang bisa dikonsumsi dimanapun dan kapan-pun ( dalam tes masih di sekitar JaBoDeTaBek). Menu-menu tersebut adalah gulai kambing, rendang, sambel goreng ati, sop buntut, sop daging, sop iga, sop jamur dan soto daging. Dibawah ini adalah label kemasan dari produk-produk awal makanan beku dari project Planet Beku ini.

Produk Planet

Produk Planet Beku

Produk Planet Beku

Contoh-contoh Produk Planet Beku

Contoh-contoh Produk Planet Beku




Nampaknya project makanan beku ini adalah sederhana; namun kalau bisa ditangani dengan baik – insyallah akan bisa membawa perubahan besar tidak terbatas pada aspek ekonomi tetapi juga menyangkut aspek sosial masyarakat.



Perubahan di aspek ekonomi yang dapat di trigger oleh project Planet Beku ini antara lain adalah :



1. Masyarakat luas bisa terlibat dalam project ini baik sebagi supplier, distributor, juru masak, penjualan dlsb.

2. Terbukanya peluang untuk ‘buka restaurant’ dengan initial cost yang sangat rendah. Secara harfiah Anda bisa bener-bener punya restaurant dengan masakan-masakan yang lezat tanpa harus memiliki seorang juru masak-pun , karena makanan bisa di supply oleh Planet beku dalam kondisi siap saji.

3. Sebaliknya para jagoan masak, Anda bisa memiliki jaringan restaurant yang sangat luas tanpa harus membuka sendiri satu out-let pun. Yaitu dengan membekukan hasil masakan Anda dan memasarkannya lewat jaringan Planet Beku, maka jadilah makanan olahan Anda menyebar ke berbagai tempat.

4. Petani dan peternak akan memilik akses terhadap pasar yang lebih luas berupa commercial end-user yaitu para juru masak Planet Beku ini.

5. Peluang maju bersama dengan system direct1st , dimana tidak ada satu pihak yang merupakan down-line atau up-line bagi yang lain.

6. Tumbuhnya industri penunjang seperti produsen tas makanan beku, cold-chain distribution dlsb.

7. Dlsb.dlsb.



Aspek sosialnya antara lain adalah :



1. Peluang bagi wanita karir; dia bisa fokus pada keahliannya sebagai dokter, akuntant, programmer, penulis dlsb, tanpa dihantui beban harus bisa memasak enak untuk suami dan anak-anaknya. Makanan lezat yang siap saji selalu bisa disediakan dengan cepat kapan saja dan dimana saja.

2. Pembagian waktu menjadi efektif karena tidak lagi harus berjam-jam di dapur setiap hari untuk masak makanan harian.

3. Peluang ibadah-pun menjadi sama antara laki-laki dan perempuan; yang selama ini di bulan Ramadhan misalnya para ibu rumah tangga sibuk memasak berjam-jam sebelum magrib dan sebelum sahur, maka kini mereka bisa sibuk ibadah yang khusus dengan membaca alqur’an lebih banyak, shalat malam dlsb. karena menyiapkan makanan untuk berbuka dan sahur cukup beberapa menit saja.

4. Berkembangnya spesialisasi yang akan meningkatkan kwalitas dari kebutuhan kita sehari-hari. Ibu-ibu yang tidak biasa masak, bila dia memaksakan diri untuk bisa memasak sop buntut untuk suaminya misalnya, maka ongkosnya akan lebih mahal dan belum tentu enak. Sebaliknya sop buntut yang enak bisa dperoleh dengan mudah dan murah dari jaringan Planet Beku, sehingga waktu dari ibu tersebut bisa lebih difokuskan pada bidang keahliannya.

5. Para pekerja di remote area lebih bisa merasa kerasan di tempat kerjanya karena tetap dapat makan makanan kesukaannya, produktifitas kerjanya-pun insyallah meningkat.

6. Para professional masakan di daerah juga memiliki kesempatan yang sama, karena insyallah project Makanan Beku ini juga akan hadir di kota Anda dalam waktu yang tidak terlalu lama.

7. Dlsb.dlsb.



Meskipun telah 10 bulan disiapkan oleh para peserta Pesantren Wirausaha angkatan I project Planet Beku ini, tentu masih banyak yang perlu penyempurnaan. Namun melihat manfaat dan peluangnya yang sangat luas tersebut, why not Anda juga mencoba produk-produk dari Planet Beku ini – siapa tahu Anda juga dapat berpartisipasi dalam meng-eksplorasi peluang ini kedepan. Insyallah.
Di-update pada Kamis, 12 August 2010 06:15

Antara Hamburger dan Sate Balibul

Antara Hamburger dan Sate Balibul... PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal
Minggu, 22 August 2010 14:13

Di pusat finansial London dahulu ada restaurant dengan nama ‘Satu’ yang menyajikan berbagai masakan Asia Tenggara termasuk dari Indonesia seperti nasi goreng, sate, pisang goreng dlsb. Restaurant elit dalam kategori fine dining ini nampaknya bukan punya orang Indonesia, dan dalam pekerjaan saya yang lama sering ke daerah ini – tidak pernah menjumpai satupun karyawan-nya ada orang Indonesia. Siapapun pemilik restaurant tersebut tidak perlu membayar satu sen-pun ke pemerintah Indonesia, perusahaan di Indonesia ataupun orang-orang di Indonesia meskipun mereka memasak menggunakan resep Indonesia dan nama-nama masakan dari Indonesia.



Demikian-lah berbagai menu masakan Indonesia seperti nasi goreng dan sate mendunia, tanpa negeri ini bisa mengambil manfaatnya satu sen-pun. Hal ini jelas sangat berbeda dengan misalnya bagaimana Hamburger, French Fries (hanya kentang goreng !), Fried Chicken (hanya ayam goreng tepung !) dlsb. masuk menguasai pasar makanan cepat saji di Indonesia. Bisa saja pengusaha Indonesia membuat restaurant cepat saji dengan menu seperti ini, namun sampai saat ini setiap anak-anak kita makan Hamburger, French Fries , Fried Chicken (orang seusia saya umumnya kurang suka menu tersebut), maka kemungkinan terbesarnya sebagian uangnya akan lari ke pemegang franchise dari makanan-makanan tersebut di luar negeri.



Disinilah ironi itu, ketika orang-orang di negeri yang tergolong miskin ikut menikmati makanan dari negeri-negeri yang tergolong kaya – mereka membayar sebagian dari ongkos makanan tersebut ke negeri kaya melalui system franchise dlsb. Sebaliknya ketika orang-orang kaya di manca negara menikmati menu dari negara-negara miskin, mereka tidak merasa perlu untuk membayar satu sen-pun ke negara miskin yang menghasilkan menu tersebut.



Inilah antara lain ketimpangan ekonomi dunia yang ditimbulkan oleh system ekonomi kapitalis, dimana negara-negara yang maju dengan kapital yang kuat mampu mengatur orang lain untuk mengikuti systemnya. Melalui hak patent, intellectual property right dan sejenisnya mereka mampu menyedot hasil dari setiap makanan cepat saji yang dimakan generasi muda bangsa ini, setiap software yang kita gunakan di rumah maupun kantor-kantor kita, bahkan juga dari setiap mainan ‘game’ yang dimainkan anak-anak kecil di negeri seperti kita.



Lantas apa yang mereka lakukan yang kita tidak lakukan sebenarnya, sehingga terjadi ketimpangan ini ?. Salah satunya adalah apa yang disebut proses industrialisasi. Ambil contohnya pada perbandingan makanan-makanan dibawah.



Sebelum Hamburger, French Fries , Fried Chicken dan sejenisnya masuk ke pasar Indonesia, menu makanan-makanan tersebut telah menjadi industri di negaranya. Diantara karakter industri adalah adanya standar proses, standar mutu, kelengkapan dan kontinyuitas. Ketika anak kita makan hamburger di salah satu restaurant cepat saji tersebut misalnya, penyajiannya sama dari satu lokasi ke lokasi lain, waktu delivery-nya sama, rasanya sama dan seterusnya. Di sisi supply bahan baku berupa tepung, daging, saus, sayuran dan segala macamnya juga ada standar yang sama dan masing-masing komponen harus selalu ada di setiap menu.



Bisa saja istri-istri kita membuat makanan-makanan yang lebih enak dari restaurant cepat saji tersebut, tetapi proses industrialisasinya yang tidak mudah untuk membuat makanan yang enak tersebut dalam jumlah banyak setiap hari dan di seluruh negeri. Tetapi tidak mudah tidak berarti tidak mungkin, bila ada diantara kita yang mau bekerja keras secara team – maka sangat mungkin kita-pun bisa meng-industrialisasi-kan menu-menu makanan asal negeri ini yang terkenal dengan keragaman citarasa-nya ini.



Untuk sate saja misalnya misalnya, ada puluhan jenis sate di negeri ini yang semua enak-enak. Ada sate Madura, sate Padang, sate Jogja, sate Betawi, sate Tegal dst. Sate Tegal sendiri ada beberapa spesialisasi, diantaranya adalah sate Balibul (dibawah lima bulan) atau bahkan Batibul(dibawah tiga bulan) yang selain sangat enak meskipun dengan bumbu minimalis – hanya kecap dan cabe, dia juga sangat empuk dagingnya.



Lantas bagaimana kalau kita mau meng-industrialisasi-kan sate Balibul misalnya untuk kelak bersaing dengan berbagai makanan cepat saji seperti Hamburger tersebut diatas, sehingga mampu bersaing di negeri sendiri syukur-syukur bersaing secara global sebagai makanan favorit dunia ?. Diluar menu pendamping seperti nasi goreng dan nasi putih saja, berikut setidaknya pekerjaan yang perlu dilakukan khusus untuk mendukung tercapainya industri sate Balibul ini :



1. Diperlukan adanya peternakan kambing skala industri, yang setiap hari mampu mensupply kambing-kambing muda dibawah lima bulan dalam jumlah yang mengimbangi demand – bila tidak maka industri sate Balibul akan gagal. Peternakan skala industri ini bisa melibatkan inti dan plasma dari ribuan petani / peternak.

2. Diperlukan industri pemotongan kambing yang sehat, sehingga menghasilkan daging-daging kambing yang rendah kolesterol – yaitu daging-daging kambing yang telah melalui proses rigor mortis dimana lemak jenuh-nya telah berubah menjadi lemak tidak jenuh.

3. Diperlukan rantai supply yang mampu menangani bahan baku daging kambing terutama, untuk selalu tersedia dalam kondisi terbaiknya setiap saat diperlukan.

4. Diperlukan proses standar membakar sate yang bisa diterima secara umum baik dari sisi hygienis dan ergonomis-nya (membakar sate dengan cara yang ada sekarang sangat melelahkan pekerja), maupun menghilangkan efek negatifnya seperti asap yang ngebul dan efek carcinogenic dari arang.

5. Diperlukan kampanye pemasaran yang luar biasa karena selama ini makanan-makanan dari kambing terlanjur ‘dikambing-hitam’kan sebagai sumber kolesterol dan hal-hal negatif lainnya.

6. Diperlukan manajemen yang creative dan mumpuni untuk mengelola jaringan restaurant cepat saji berbasis kambing muda ini.

7. Diperlukan pengelolaan merek dagang, system franchise, system kendali mutu dlsb. agar sate-sate Balibul yang dipasarkan dimanapun di seluruh Indonesia atau bahkan dunia tetap memiliki standar mutu dan citarasa yang relatif sama – meskipun di berbagai negara ada kemungkinan memerlukan modifikasi rasa.

8. Dlsb. dlsb.



Bila proses industrialisasi tersebut dapat dilakukan, maka ada peluang di era globalisasi ini nantinya ketika misalnya jaringan restaurant cepat saji bernama Balibul ada di seluruh dunia – sebagaimana Hamburber kini ada di seluruh dunia – setiap warga dunia makan sate Balibul, sebagian uangnya mengalir ke negeri ini dalam bentuk franchise fee , dalam bentuk pembayaran bahan baku, dalam bentuk gaji tenaga kerja ahli dibidang persatean Balibul dst. dst.



Maka itulah buah industrialisasi, ketika kita berhasil membuat suatu industri – betapapun nampaknya sepele seperti sate Balibul ini misalnya, efeknya terhadap kesejahteraan masyarakat akan luar biasa. Industrialisasi ini pulalah yang selama ini memakmurkan negara-negara yang makanan-nya ikut kita makan, yang software-nya kita pakai sehari-hari, yang filim-film-nya kita tonton dst.



Poin 1 – 8 tersebut diatas bisa dilakukan oleh swasta untuk mewujudkan industri ini; namun ada hal-hal lain yang harus dilakukan oleh pemerintah yaitu ketersediaan infrastruktur industri, perijinan yang mudah, system perpajakan yang menunjang dlsb. Dalam kondisi Indonesia saat ini, mewujudkan industri tersebut masih sangat sulit karena kita adalah negara di urutan 122 dalam hal kemudahan usaha.



Saya justru kawatir, industri-industri semacam ini lahir dari negara-negara tetangga kita meskipun menggunakan menu makanan kita. Singapore misalnya, tingkat kemudahan usaha menempati no 1 di Dunia –jadi sangat mudah melahirkan usaha di sana. Negara tetangga lainnya Thailand di urutan 12, Malaysia urutan 23 dan bahkan Vietnam saja berada lebih baik dari kita yaitu di urutan 93. Bila daya saing industri ini tidak ada lompatan perbaikan yang luar biasa dari para pihak yang berwenang di negeri ini, memakmurkan rakyat akan tetap sulit atau bahkan semakin sulit kedepan.



Maka melalui tulisan ini, saya mengajak ribuan pembaca tulisan-tulisan saya untuk mau mulai memikirkan hal-hal kecil tetapi insyaallah berdampak besar dalam konteks memberi makan di hari kelaparan, mumpung ini bulan puasa – kita dapat merasakan betapa tidak enaknya lapar. Bila industri-industri yang sebelumnya tidak terbayang-kan pun terbangun, lapangan kerja insyallah tercipta, ekonomi berputar lebih cepat, impor berkurang dan ekspor meningkat – maka disitulah kemakmuran insyallah akan datang.



Seandainya Allah kelak bertanya ke kita “ mengapa engkau biarkan tetanggamu, sekian banyak penduduk negerimu sampai kelaparan di bumiKu yang gemah ripah loh jinawi – yang didalmnya semuanya telah Aku sediakan ?” , kita inginnya bisa menjawab “Sudah Ya Allah, Aku bekerja keras disiang hari, berdo’a kepadaMu di malam hari, ingin agar aku, keluargaku, tetanggaku dan masyarakat di negeriku terhindar dari rasa lapar karena miskin Ya Allah; mengenai hasil, itu kuasaMu jua yang menentukan Ya Allah...”. Amin.

7 "I" Untuk Para (Calon) Entrepreneur...

7 "I" Untuk Para (Calon) Entrepreneur... PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal
Sabtu, 21 August 2010 09:50

Mengikuti anjuran Rasulullah SAW melalui hadits yang berbunyi : “Kalimat hikmah (perkataan yang baik/bijaksana) adalah senjatanya orang mukmin, dimanapun ia mendapatkannya maka dia lebih berhak untuk mengambilnya” (HR. Tirmidzi/Ibnu Majjah), maka kali ini kita mengambil pelajaran dari kiat sukses salah seorang pengusaha keturunan yang terkenal di Indonesia. Setelah saya selaraskan dengan nilai-nilai Islam, maka kiat sukses ini saya sajikan dalam 7 "I" berikut :



1. Informasi



Ayat pertama di Al-qur’an yang turun ke Rasulullah SAW adalah Iqra’...(bacalah...), ini untuk menggambarkan betapa pentingnya membaca atau menangkap informasi ini. Membaca apa yang tersurat seperti yang ada di Al-Qur’an ataupun membaca apa yang tersirat di alam sekitar kita.



Hasil dari ‘bacaan’ tersebut terkumpullah informasi di otak kita yang kemudian sebagian bisa menjadi peluang untuk berusaha. Bila Anda tahu misalnya masyarakat sekitar Anda membutuhkan sesuatu, dan Anda-pun tahu bagaimana atau dimana sesuatu tersebut bisa diperoleh – maka Anda sudah bisa jadi pengusaha dalam pemenuhan sesuatu kebutuhan tersebut.



Beberapa dekade lalu contohnya ada pengusaha di Indonesia yang menangkap informasi bahwa masyarakat perlu cara minum yang mudah, maka mulailah dia membotolkan air yang terus kemudian berkembang menjadi air dalam kemasan gelas plastik, dalam galon dlsb. Tanpa kita sadari inilah hasil informasi yang diolah oleh pengusaha tersebut sehingga kita begitu mudah menyajikan minum untuk tamu kita misalnya. Seandainya produk air dalam kemasan ini belum ada, maka mungkin kita masih harus merebus air setiap saat ada tamu di rumah !.



2. Intelligence



Intelligence adalah kemampuan untuk mengangkap dan mempelajari fakta kemudian trampil pula mengolahnya. Informasi yang sama berseliweran di depan kita semua, namun sebagian kita bisa menangkap kemudian mengolahnya menjadi suatu usaha – sebagian yang lain tidak menangkap apa –apa, faktor intelligence inilah yang sangat berperan dalam hal ini.



Karena berupa ketrampilan atau skills otak, maka intelligence ini bisa diasah atau dilatih. Bila diasah untuk ketrampilan mengolah peluang usaha misalnya, maka pemilik intelligence ini akan memiliki apa yang disebut business acumen yaitu kemampuan untuk secara cepat memahami situasi kemudian cepat pula mengambil keputusan bisnisnya.



Bagaimana melatihnya ?, sesi-sesi idea brainstorming seperti yang kami adakan di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin adalah salah satu contohnya.



3. Intuisi



Kadang sebuah informasi tidak begitu jelas, antara ada dan tiada. Namun bagi entrepreneur yang berbakat dan berketrampilan, dia sudah bisa mengambil keputusan berdasarkan intuisi-nya.



Intuisi adalah pengetahuan atau kepercayaan tentang sesuatu berdasarkan instink, tanpa harus membuktikan bahwa sesuatu itu ada beneran atau tidak. Intuisi tentang suatu bidang usaha – lagi-lagi bisa diasah dengan pengalaman dan praktek di lapangan.



4. Ilham



Setiap kita sebenarnya telah diberi ilham untuk mampu membedakan sesuatu itu buruk atau baik “fa alhamahaa fujuu ra haa wa takwahaa” (QS 91 : 8), jadi tanpa bertanya ke siapapun sebenarnya hati kecil kita bisa berfatwa untuk diri kita sendiri apakah suatu jalan itu akan membawa kepada suatu kebajikan /ketakwaan atau membawa keburukan.



Hanya saja lagi-lagi bila hati ini tidak dilatih untuk menggunakan ilham tersebut, maka hati ini akan mati – tidak mampu lagi membedakan mana suatu kejahatan dan mana suatu kebajikan.



Seorang muslim yang bekerja/berusaha dalam lingkungan ribawi misalnya, awalnya hati kecil menolak, gelisah dlsb. Namun karena tidak ditinggalkannya pekerjaan/usaha tersebut lama kelamaan hatinya tidak bekerja lagi – dia enjoy saja di lingkungan ribawi tersebut.



5. Inisiasi



Setelah kita menangkap peluang, mengolahnya dengan cerdas, instuisi kita mengatakan ini peluang yang baik dan hati kecil kita pun comfortable dengan ide tersebut – maka ini belum apa-apa dan tidak akan menjadi apa-apa sebelum pekerjaan mengolah peluang tersebut benar-benar di inisiasi atau dimulai.



Inilah yang paling berat, banyak orang pinter dengan berjuta ide ‘man of ideas’ tetapi tidak menjadikan satupun ide-nya diterapkan. Di perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi tersedia ratusan ribu atau bahkan jutaan thesis-thesis dari S1 sampai S3, namun hanya sebagian sangat kecil saja dari pemikiran-pemikiran cemerlang tersebut ter-inisiasi-kan dalam sesuatu yang riil.



Tidak ada cara lain untuk melawan ketakutan terhadap sesuatu selain menghadapinya, maka inisiasi inilah cara kita untuk melawan ketakutan akan gagal dalam mengimplementasikan rencana, dalam membangun usaha dan seterusnya.



6. Istiqomah



Setelah kita mulai mengimplementasikan rencana-rencana usaha kita, berbagai masalah akan bermunculan. Peluang itu berkorelasi langsung dengan risiko, artinya di setiap risiko yang kita hadapi – ada peluang bagi kita bila kita berhasil mengatasi risiko tersebut.



Yang diperlukan adalah sikap istiqomah dalam implementasi usaha, yaitu kemampuan kita untuk secara tekun dan terus menerus mengatasi masalah-masalah yang muncul dari rencana yang diimplementasikan dan tidak lari dari masalah atau kesulitan, “maka sesungguhnya bersaman dengan kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS 94:5-6).



Lebih dari itu bila usaha yang kita implementasikan adalah dalam rangka ketaatan kita kepada Sang Pencipta, misalnya diniatkan untuk menciptakan lapangan kerja yang banyak, diniatkan untuk memberi makan di hari kelaparan, maka insyaallah Allah akan menurunkan malaikatnya membantu kelancaran usaha kita.



Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu" (QS 41:30).





7. Insyaallah



Sebagai orang beriman, kita yakin betul bahwa segala sesuatu hanya terjadi bila Allah menghendakinya terjadi. Sebaliknya, sekeras apapun kita mengusahakannya bila Allah tidak menghendaki sesuatu itu terjadi – maka pasti tidak akan terjadi. Maka tidak ada yang bisa kita sombongkan dari segala upaya ini, karena hanya Dia-lah yang menetukan keberhasilan atau kegagalannya, yang kita bisa lakukan adalah sekedar berusaha.



Lantas bagaimana kita menyikapi dengan I yang ketujuh ini untuk menunjang keberhasilan kita ?, kiat-nya adalah menyelaraskan usaha kita dengan kehendak Allah; karena yang Dia kehendaki pasti terjadi – maka bila kita bisa menangkap kehendakNya di alam ini, itulah peluang sukses terbesar kita.



Lantas bagaimana kita bisa menangkap kehendak Allah ini ?, kembali ke I yang pertama – yaitu informasi atau membaca apa yang tersurat (di Al-Qur’an) dan yang tersirat di Alam. Insyaallah.

Contact us

Email : bisnistajir.blogspot.com

facebook :

mobile phone :